Ikhwan Nangis Boleh Nggak | 2009-02-05
Jangan heran dengan judul diatas, emang bener ya? Klo ikhwan harus bisa nangis sejak kapan tuhh!!, bagi yang baru tahu baca aja dulu, klo yang udah tahu boleh lah baca-baca. Oke saya jelaskan, ikhwan dan akhwat pasti pernah melakukan dosa kecil, besar, di sengaja maupun tidak, trus hubungannya dengan nangis apa!?, kita boleh bangga dengan prestasi kita, boleh tertawa sepuasnya “awas disangka orang gila”, namun apa kita tahu sampai kapan itu ada ditangan kita, sampai kapan itu semua bertahan, percaya apa tidak klo kehidupan kita dapat berubah dengan satu kedipan. Jika nangis bisa mengobati luka dihati kenapa tidak ! ya to, saya pernah mempunyai masalah di rumah dengan orang tua sampai-sampai emosipun meledak-ledak tidak karuan, akhirnya tembok kamar jadi kambing hitam coretan kata-kata kasarpun terpampang indah di tembok kamar dengan warna merah, hitam, hijau, coklat, maklum saya juga gemar melukis, akhirnya saya mencoba merenungi semua kejadian tiba-tiba air mata keluar tak terkendali saya mara pada diri sendiri merasa tidak berguna, saya berkata dalam hati “ya Allah ada apa denganku, kenapa seperti ini”, saya diam merenung sendiri di kamar sampai akhirnya air mata dan renungan bisa meredakan ganasnya emosi. Klo saya piker-pikir lagi coretan di tembok tidak perlu dilakukan, hanya dengan MERENUNG, MENANGIS, semua bisa selesai, aneh.
sebagai manusia biasa saya juga punya masalah dengan sahabat hingga akhirnya komunikasi tidak lancar, perasaan kehilanganpun muncul, teringat dengan kejadian-kejadian masa lalu, pisah kenang dengan sahabat seperjuangan, malampun datang tahajud jadi ladang komunikasi dengan Allah SWT, saya ceritakan semua masalah dihati akhirnya air mata pun menetes,“cengeng banget sich, nggak apa-apa lah”, tiba-tiba perasaan jadi tenang beban pikiran menghilang, lagi lagi ada keterlibatan air mata disitu subhanallah, keesokan harinya saya pun sudah bisa tersenyum lagi ringan, tenang, ikhlas semuanya jadi satu. NANGIS lagi NANGIS lagi.
Kebiasaan di kos-kosan abis sholat shubuh, iseng-iseng dengerin radio abisnya temen-temen masih sibuk di kamar masing-msing tak maukala saya juga cari kesibukan, tiba-tiba tangan berhenti memutar tuning di frekuensi berapa ya lupa? “maklum dah tua”. nah lo ! volume radio mulai saya putar akhirnya suara Aa’ Gym mulai penuhi ruangan kamar menyatu dengan dinginnya pagi “alah sok puitis”. Pada tausiyah pagi itu Aa’ Gym membawa perasaan saya sebagai seorang anak, hatipun mulai merasa berdosa, merasa belum balas budi ke orang tua, tidak bisa membahagiakan orang tua, banyak kekurangan, banyak larangan Allah SWT dilanggar, pokoknya semua campur aduk, tidak saya sadari air mata deras menetes tidak hanya itu suaranya juga keras “untung temen-temen nggak ada yang dengar, dikamar juga sendirian nggak ada istri sich” mulai dah. Hampir setengah jam nangis “ahh!! Baru nyadar” , acara tausiyah selesai nangisnya juga selesai,cuman mata tetep aja merah, biar tidak ada yang tau kalo abis nangis cepet-cepet ke kamar mandi ambil wudhu “udah kebiasaan ambil wudhu bolak balik, enak sich”, NANGIS lagi NANGIS lagi.
Kadang saya merasa menangis adalah salah satu cara untuk meringankan pikiran perasaan juga lebih tenang, tapi klo IKHWAN NANGIS gimana nich!!. Ada tanggapan??.
(ustad_aa)